headerphoto

Mamanda, Riwayatmu Kini....

Senin, 14 April 2008 03:45:38 - oleh : admin

Mamanda, Riwayatmu Kini ....

Hikayat Mamanda, Riwayatmu Kini

Judul Buku      : Mamanda, Sebuah Teater Eksodus

Penulis            : Hermansyah Masran

Penerbit          : Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Adi Cita Karya Nusa, Yogyakarta

Cetakan          : Pertama, Oktober 2007

Tebal               : ix + 89 Halaman

 

Teater tradisional atau teater rakyat adalah karya seni yang tercetus dengan sendirinya. Ia dihayati, tumbuh, dan berkembang bersama dengan perubahan masyarakatnya. Pada mulanya, kelahiran teater tradisional didorong oleh kebutuhan masyarakat lokal terhadap sebuah hiburan, kemudian meningkat menjadi kebutuahan adat berupa berbagai bentuk upacara. Hal ini menyebabkan teater rakyat menjelma menjadi  suatu kesatuan yang tak terpisahkan, antara adat kebiasaan dan kaidah kehidupan bermasyarakat.

 

Tidak ada suatu pertunjukan kesenian yang begitu akrab seperti pada pertunjukan teater tradisonal. Akrab antara penonton dan pemain, antara suasana dan jiwa, antara lakon dan kehidupan masyarakatnya. Jalinan keakraban harmonis ini membuat para penonton ikut serta dan terlibat langsung dalam pementasan tersebut. Sehingga pesan moral sebuah seni pertunjukan bisa diserap dan meresap dalam hati setiap penikmatnya.

 

Penaklukkan Kerajaan Banjarmasin dan penerapan irakan (kerja paksa) oleh Belanda (1859), disamping pola hidup masyarakat Banjar yang gemar akan merantau, berhujung pada eksodus masyarakat Kalimantan Selatan ke berbagai wilayah, seperti Singapura, Malaysia, dan Indragiri Hilir. Pilihan ini cukup beralasan, mengingat sejak peristiwa London (1824) Singapura dan Malaysia resmi berada dalam wilayah kekuasaan Inggris yang melaksanakan politik penjajahan relatif lebih lunak di banding Belanda. Sementara pemilihan Indragiri Hilir(1885), lebih pada faktor latar belakang kehidupan masyarakat Banjar yang rata-rata bekerja sebagai petani dan nelayan. Alam Indragiri yang merupakan kawasan dataran rendah dengan banyak sungai-sungai kecil sangat cocok untuk dikembangkan sebagai kawasan nelayan dan pertanian.

 

Eksodus masyarakat Banjar menyebabkan terjadinya proses asimilasi dan akulturasi seni-budaya masyarakat tempatan. Di Indragiri Hilir, kedatangan suku banjar setidaknya membawa serta tiga jenis kesenian pertunjukan; Madihin (hasil renungan seniman yang lahir dalam bentuk syair, pantun, dan lukisan sindiran kehidupan dengan iringan alat musik pukul yang disebut gandang), Lamut (seni pertunjukan yang mengisahkan seorang tokoh bernama Paman Lamut, hampir sama dengan tokoh Semar dalam dunia pewayangan), dan Mamanda yang dapat disamakan dengan Mendu di Kepulauan Riau, atau Dulmuluk pada beberapa daerah Melayu lainnya.

 

Menurut Encik Usman Ardani, ketua perkumpulan mamanda parit empat belas,  perkumpulan mamanda di Tembilahan, Indragiri Hilir telah ada sejak tahun 1947. Pada masa itu, lakon teater mamanda masih terfokus pada sastra lama berupa hikayat dan syair. Pada era 60-an, seni pertunjukan yang berasal dari Kalimantan Selatan ini mengalami perkembangan signifikan. Di masa itu, para seniman mamanda mulai mengembangkan lakon yang ditampilkan dengan membuat cerita sendiri berdasarkan realitas yang terjadi di tengah masyarakat selaku penikmat. Hal ini bertujuan agar pesan moral lakon lebih dekat dan mengena dengan kehidupan nyata, di samping menjaga eksistensi para pelaku seni. Namun, masa keemasan ini tidak berlangsung lama. Ironisnya lagi, aktivitas kesenian yang muncul pertama kali pada akhir abad ke-19 ini harus terhenti total karena peristiwa politis G 30 S/ PKI (1965).

 

Teater rakyat yang selama ini turut memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan pendidikan masyarakat melalui tema-tema lakon yang disajikan, di samping sebagai wadah ekspresi seniman dan hiburan masyarakat lokal, seketika lumpuh total diberangus oleh tragedi politik kekuasaan Indonesia. Hal ini menyebabkan hilangnya fungsi kontrol kesenian bagi perkembangan kemasyarakatan.

 

Dua tahun pasca tragedi perpolitikan di atas (1967), seni pertunjukan mamanda di Indragiri Hilir kembali bangkit dari mati surinya. Bahkan, dua tahun kemudian (1969) kesenian mamanda mengalami signifikansi perkembangan yang positif. Hal ini terbukti dengan munculnya puluhan perkumpulan mamanda yang tersebar di berbagai daerah di Indaragiri Hilir. Kendati demikian, masuknya kebudayaan asing, rendahnya daya saing dan kreatifitas para seniman, dan kurangnya perhatian dan dukungan masyarakat, termasuk pemerintah daerah ditengarai menjadi sebab terjadinya kelumpuhan kembali kesenian ini.

 

Untuk membumikan kembali seni pertunjukan tradisional ini, maka kerjasama, perhatian, dan pengharagaan segenap kalangan masyarakat terhadap karya dan para pelaku seni menjadi mutlak adanya. Terutama dari tokoh-tokoh masyarakat Banjar dan pemerintah daerah. Jika tidak, bukan mustahil seni pertunjukan eksodus yang pernah berjaya ini akan punah dan menjadi dongeng sebelum tidur bagi generasi mendatang. Jika di Jawa ada lirik lagu, Bengawan Solo, riwayatmu dulu..., yang menyejarah,  maka tidak menutup kemungkinan di Indragiri akan segera ada, Mamanda, riwayatmu kini..., yang tinggal sejarah.

 

Melalui Mamanda, Sebuah Teater Eksodus Hermansyah Masran tidak saja mengupas tuntas tentang sejarah kelahiran dan perkembangan seni pertunjukan Mamanda (baik di Kalimantan Selatan maupun di Tembilahan), tetapi juga kronologis terjadinya eksodus masyarakat Banjar dari Kalimantan ke Indragiri Hilir. Sisi menarik lain yang ditawarkan penulis adalah perbedaan dan persamaan bentuk teater rakyat yang (pernah) berkembang di dua pulau terbesar di Indonesia.

 

Upaya yang telah dilakukan penulis, selaiknya mendapat apresiasi positif dari berbagai kalangan di Indaragiri Hilir, khususnya Tembilahan. Fakta yang dituangkan penulis dalam buku setebal 89 halaman ini, seakan ingin mengingatkan bahwa teater rakyat yang mungkin bagi sebagian masyarakat di cap norak dan kampungan ini pernah menduduki posisi penting dalam sejarah peradaban masyarakat Indragiri Hilir. Di samping itu, ia merupakan salah satu kekayaan khazanah seni budaya yang perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang.[]

 

M. Yusuf Himariska, alumnus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Tulisan Teman" Lainnya