Antara Cinta Dan Kepentingan Politik
Antara Cinta Dan Kepentingan Politik
Oleh Muhammad Syukur*
Judul : Biografi Ratna Sari Dewi Soekarno, Sakura Di Tengah Prahara
penulis : M. Yuanda Zahra
Penerbit : Ombak,
Cetakan : I, Februari 2008
Tebal : x+252 Halaman
Melalui buku ini yang berjudul “Sakura Di Tengah Prahara, Biografi Ratna Sari Dewi” M. Yuanda Zahra berusaha untuk mengupas tuntas seputar kehidupan Soekarno dan Naoko Namoto atau yang lebih dikenal dengan Ratna Sari Dewi, perempuan kelima asal Jepang yang dinikahinya. Dalam buku ini, digambarkan bagaimana perjalanan cinta mereka. Keduanya memilki kesesuaian yang membuat kedekatan dan ketersambuangan; yakni kecintaan dalam dunia seni.
Adapun dalam konteks yang lebih luas, haru biru cinta antara mereka tidaklah seperti kasmarannya anak muda yang berpikir tentang dunia yang dimiliki berdua. Ini adalah sebuah episode yang kompleks, yang dipenuhi tragedi, intrik,dan persoalan yang menyangkut banyak orang, bahkan negara. Bisa dikatakan sejarah awal hubungan politik luar negeri Indonesia dengan Jepang di pengaruhi oleh cerita asmara keduanya. Dalam artian bisa disebut hubungan keduanya berbau politis.
Dalam perjalanan sejarah indonesia, nama Dewi tercatat sebagai pelaku sejarah yang tidak bisa diabaikan peranannya dalam tiga periode. Pada masa orde lama, Dewi mempunyai peranan penting sebagai penyeimbang dan pembuka akses hubungan Indonesia dengan jepang yang pasang surut. Bagi investor Jepang, posisinya sangat berpengaruh untuk menjajagi kemungkinan menanamkan modal di Indonesia. Karena terbukanya afinitas dengan Dewi menjadi sebuah jaminan lancarnya usaha untuk mendapatkan proyek-proyek besar dari pemerintahan RI. Hal ini secara perlahan telah membuatnya sebagai orang berpengaruh di Indonesia. Sehingga Dia terpilih menjadi ketua kehormatan lembaga persahabatan indonesia-jepang. Dialah yang mendesak soekarno untuk melakukan atau tidaknya sesuatu. Karena pertimbangan Dewi adalah pertimbangan Soekarno juga.
Memudarnya pengaruh dan kekuasaan Seokarno pada orde lama, membuat Dewi aktif menjalankan misi politiknya. Dewi berusaha merekonsiliasikan kepercayaan publik dan koloni Seokarno yang memulai beralih. Hal ini dapat dilihat dari usahanya untuk membujuk Soeharto agar mau menandingi Soebandrio. ketika itu Seobandrio berusaha untuk mendekatkan Soekarno kembali dengan partai Komunis dan menjauhkan pangaruh angkatan darat terhadap diri Soekarno. tapi ini justru menjadi bomerang. Karena Soehartolah yang muncul sebagai oportunis dengan surat perintah sebelas Maret dikeluarkannya, yang sampai sekarang masih kontroversial
Bergulirnya orde lama ke orde baru, Dewi hidup diluar negeri “pengasingan”. Tapi Dewi tetap memantau perkembangan terbaru seputar politik dalam negeri Indonesia. Sekaligus dikenal menjadi pengkritik Orde Baru yang paling tajam. Usaha yang sempat membikin panas telinga Soeharto ketika berkuasa adalah surat yang ia kirim secara terbuka dan blak-blakan. Surat yang mempersoalkan cara dan kebusukan Soeharto, dalam pengambilalihan kekuasaan serta penyebaran opini umum pada masyarakat yang kebingungan terhadap situasi politik ketika itu. Apa yang dilakukan Dewi dapat disinyalir sebagai serangan politik secara terbuka dan meluas pada presiden Soeharto.
Keruntuhan orde baru (masa reformasi) tak pelak lagi menjadi uforia bagi Dewi. Mendadak dirinya menjadi sorotan media dan publik dalam negeri. Tak lain lagi, kesaksian pentingnya seputar proses pengambilalihan kekuasaan tahun 1965—1967, serta peristiwa G 30 S yang selama ini menjadi kontroversial dan yang selalu disematkan pada partai komunis.
Buku ini selain bisa untuk digunakan untuk mengenal pribadi Dewi, juga menjadi titik tolak dalam memahami pribadi Soekarno yang fenomenal.
* Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, asal Kampar, Riau.
Dimuat di SUARA MERDEKA, 9 Maret 2008
Visitors :1433 Org
Hits : 4521 hits
Month : 125 Users




